Pages

Showing posts with label KEJIWAAN. Show all posts
Showing posts with label KEJIWAAN. Show all posts

Monday, October 18, 2010

Mengatasi Rasa Kecewa


Kekecewaan merupakan reaksi atas ketidaksesuaian antara harapan, keinginan dengan kenyataan. Rasa kecewa bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari hal-hal yang kelihatannya sangat biasa, menjadi besar dan akhirnya menyiksa perasaan. Faktor penyebab utama timbulnya kekecewaan ialah karena target yang kita tentukan terhadap sesuatu atau seseorang tidak terpenuhi, sehingga seringkali kita ingin menyalahkan sesuatu atau menghakimi orang lain.
Sejatinya, hidup itu selalu bersinggungan dengan masalah, ketidaksesuaian dan kekecewaan juga merupakan masalah. Ketika kita berharap kepada apa pun dan siapa pun, bersiaplah untuk kecewa karena kemungkinan harapan tidak sesuai kenyataan itu selalu ada dan setiap orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Melampiaskan rasa kecewa, semua orang pasti bisa melakukannya. Namun, mengatasi, mengantisipasi dan menyikapi rasa kecewa,  siapkah kita?Kesiapan kita menghadapi kemungkinan gagal merupakan salah satu indikasi kesiapan kita menghadapi kekecewaan. Tapi jika kita terlanjur dikecewakan ada beberapa hal yang patut kita renungi, kita resapi dengan kejujuran hati dan kita lepaskan dengan keikhlasan. Sekecil apa pun, seberat apa pun, kecewa itu harus diatasi, disembuhkan dan dihilangkan karena itu akan menjadi ganjalan perasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik juga psikis kita. Kekcewaan yang tersimpan, mendalam dan terpendam dapat menumbuhkan dendam dan penyakit kronik (Naudzubillah min dzaalik). Karena itu, kematangan spiritualitas, kecerdasan emosi, serta keterbukaan pikiran diperlukan untuk mengelola rasa kecewa. Tips berikut dapat membantu mengatasi rasa kecewa.
  1. Keluarkan uneg-uneg dengan curhat kepada orang yang paling membuat kita nyaman dan bisa dipercaya. Sahabat, keluarga atau seorang profesional yang bertanggung jawab terhadap kode etik profesinya. Mencurahkan perasaan dengan ngobrol merupakan salah satu cara berkomunikasi yang baik untuk mendapatkan pencerahan atas masalah yang kita hadapi. Masalah yang kita anggap berat kadang-kadang bisa dipecahkan dengan sharing pikiran dan perasaan dengan orang lain. Sudut pandang yang berbeda tentang sebuah masalah, saran dan masukan orang lain bisa menjadi alternatif penyelesaian. Paling tidak, beban yang kita rasa berat bisa berkurang dengan adanya orang yang mau mendengar curhat kita. Berkaitan dengan hal ini, konsultasi psikologis, mengikuti kajian rohani, berpartisipasi dalam kegiatan sosial atau menyibukkan diri dengan kegiatan hobi yang positif bisa menjadi alternatif pemecahan sekaligus membantu membuang energi negatif dari rasa kecewa kita.
  2. Menumpahkan segenap perasaan dengan menulis, umumnya menulis diary. Hal ini tentu sangat membantu menyalurkan perasaan bagi para pribadi yang terkategori tertutup. Menulis bisa membebaskan diri dari tekanan yang memenuhi perasaan dan pikiran karena kita mampu menuliskan detail perasaan dan pikiran kita, secara bebas, tanpa takut diketahui orang lain, sehingga perlahan-lahan akan timbul kelegaan, pencerahan dan di lain waktu menjadi inspirasi untuk mencari sumber masalahnya hingga penyelesaiannya. Dalam sebuah penelitian, seorang ahli saraf  Universitas California, Dr. Mathew Lieberman menyatakan bahwa mengekspresikan perasaan lewat tulisan merupakan pengaturan emosi yang tanpa disengaja, terutama dalam keadaan sulit. Menurut penelitiannya terhadap 30 kinerja otak pasiennya, menulis akan mengurangi aktivitas amygdala (bagian otak yang terhubung dengan emosi dan ketakutan), serta akan meningkatkan aktivitas bagian depan korteks (pengatur pikiran), sehingga menulis akan mengurangi tekanan pada otak dan menjaga keseimbangan mental. Menulislah untuk mencurahkan perasaan, kemudian menulislah untuk melupakan, dan lanjutkanlah menulis untuk mencari penyelesaian. Diary atau buku harian bisa menjadi acuan untuk memotivasi diri menyelesaiakan masalah, termasuk kekecewaan. Kita dapat mengambil sisi yang sesuai dari permasalahan yang berhasil siselesaikan di masa lalu. Memang, satu solusi tidak akan menyelesaikan setiap masalah, tetapi paling tidak kita bisa mengambil strategi pengambilan keputusan di saat itu untuk dijadikan acuan di saat menghadapai masalah yang sekarang.
  3. Rekreasikan hati dan pikiran kita dengan kegiatan yang bisa membuat kita rileks dan fun. Kekecewaan yang dalam tidak dapat dihilangkan secara instan, apalagi jika kita tergolong orang yang gemar memelihara luka. Diperlukan pengalihan perhatian yang bersifat positif, menyenangkan, melupakan, bahkan lama-lama bisa menyembuhkan. Carilah kegiatan yang bisa merelaksasikan pikiran, membuat kita tenang dan senang. Misalnya menekuni hobi, mencari suasana baru dengan rekreasi ke tempat favorit atau ke tempat-tempat wisata yang menenangkan, berolahraga, mengisi TTS , membaca  buku-buku yang bermanfaat atau bermain catur yang bisa menjadi gizi buat otak kita juga. Relaksasi bisa mengembalikan energi posititf yang dapat mengembalikan kesegaran pikiran juga mengurangi tekanan beban perasaan.
  4. Bersabar, belajar untuk ikhlas dan memaafkan. Melakukan ketiga hal ini memang tak semudah melakukannya. Namun, hidup dan hati kita juga perlu dituntun dan dituntut untuk menjalani yang terbaik, berdamai dengan kenyataan. Dengan ketiga hal ini, kita juga bisa mulai berpikir jernih sekaligus berintrospeksi. Mungkin saja kekecewaan yang kita rasakan merupakan akibat dari terlalu besarnya tuntutan kita terhadap orang lain, sehingga orang lain tidak mampu memenuhinya. Bisa saja kita kecewa karena terlalu muluknya harapan kita terhadap sesuatu, sehingga seringkali kita merasa terpukul ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, menyalahkan keadaan bahkan menyalahkan orang lain. Kekecewaan akan terasa berat karena ketidakikhlasan kita menerima kenyataan. Memaafkan dapat melegakan dan menenagkan perasaan karena berarti kita juga bisa menerima kekurangan orang lain sekaligus mematikan potensi mendendam. Keikhlasan dan kesabaran akan menuntun kita kepada kesadaran bahwa di suatu waktu dan di suatu tempat pasti ada yang terbaik untuk hidup dan hati kita. Yang penting kita terus berusaha untuk tidak kehilangan tongkat dua kali, sehingga tidak jatuh dua kali ke lobang yang sama.
  5. Berbicara kepada Tuhan sebagai Pencipta yang berkuasa membolak-balikkan hati kita. Tuhan tak pernah meminta balasan, tempat curhat yang paling aman, nyaman dan penuh kejujuran. Mungkin kita baru bicara kepada-Nya ketika hati tak lagi mampu bertahan. Merengek meminta belas kasihan, memohon kemudahan, ketika kita kehabisan. Hanya karena satu masalah, kita merasa lelah. Pada satu masalah, kita sering menyerah. Tersungkur dalam tangis dan keluh yang panjang. Satu ujian, satu cobaan, bahkan satu peringatan pun sering membuat kita lalai, membiarkan hati kita tersiksa dalam rasa putus asa, dan mulut kita membisu untuk mengajak-Nya berbicara. Ketika Tuhan mengajak kita bicara dalam bahasa bencana, irama musibah dan bingkai masalah, barulah kita meminta, mendekat dan berbicara kepada Tuhan. Melalui tangis taubat dan permohonan, kita dapat meluruhkan keakuan, kesombongan dalam kesadaran akan ketidakberdayaan, menanti uluran tangan Tuhan. Kekuatan hati dan keyakinan pada Yang Mencipta inilah yang akan menjadikan kita tegar menghadapi masalah dan menyikapi segala bentuk kekecewaan. Kembalikan semua permasalahan kepada Pemilik Kehidupan. Tuhan lah sebaik-baik tempat meminta, penghabisan penyerahan dan kepasrahan diri, maka sertakanlah Tuhan dalam setiap langkah, berdoalah dalam setiap keadaan karena doa merupakan obat mujarab untuk melepaskan segala beban bahkan mampu mengubah keadaan. 
Semoga kita termasuk orang yang senantiasa menyadari kehadiran-Nya di setiap hela nafas kita.

sumber : Nia Hidayati

Sunday, September 12, 2010

Apa Itu Cinta?

Wahhh....akhirnya gua keposting juga hal yang satu ini.....yaa..itung-itung sebagai bahan masukan bagi temen-temen, kali-kali aja berguna....hehehe. Emang mulai sejak dulu...sejak diciptakan Adam dan Hawa sampai sekarang, bahkan esok dan jaman yang akan datang pun masalah ini tak akan habis-habisnya untuk dibicarakan.
Cinta merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang sangat mendasar. Mendefinisikan cinta memang sulit, tergantung siapa yang mendefinisikannya. Bagi orang lagi kasmaran, katanya cinta itu indah bla.. bla.. bla....tapi lain lagi menurut orang yang broken heart, katanya cinta itu kejam dan bla..bla..bla....dan masih banyak lagi yang laennya, namun menurut gua, cinta adalah seni perkembangan rasa simpati seseorang kepada yang lain...kira-kira begitu, dah....hehehe.
Di mana-mana semua orang menganggap bahwa cinta itu penting, sehingga mereka mencari cinta itu bagi dirinya. Kita sangat memerlukan cinta, rasanya kagak ada manusia yang kagak butuh cinta. Banyak orang yang selalu suka menonton film tentang kisah cinta, baik yang happy ending maupun sebaliknya. Banyak juga orang menyukai lagu-lagu bertema cinta. Gua sendiri, apa lagi pas sreg dengan suasana hati...wah bisa berulang-ulang gua puter tu lagu.....gekgegkkk...Namun walaupun demikian banyak orang yang kagak berpikir tentang 'apa' dan 'bagaimana' cinta itu. Bagi kebanyakan orang, masalah cinta adalah 'how so that people love him' ...bagaimana supaya orang mencintainya atau orang selalu berupaya supaya dicintai, sehingga menjadi lupa untuk mengkaji hakikat CINTA itu sendiri. Sampai saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa cinta itu kagak lebih dari sekedar perasaan menyenangkan dan bila pengen mengalaminya kita harus terjatuh ke dalamnya ..githo.
Cinta manusia adalah untuk mengungkapkan perasaan kita terhadap siapapun, bisa kepada suami, istri, orang yang dicintai, kedua orang tua, anak-anak dan temen-temen. Kita dapat menggunakan ungkapan yang sama terhadap mereka semua, namun perasaan cinta yang kita tunjukkan tidaklah sama. Umpamanya, perasaan cinta yang kita tunjukkan kepada orang tua kita tentu berbeda dengan perasaan yang kita tunjukkan pada pacar kita. Pada saat kita mengatakan 'mencintai seseorang', sebenarnya kita sedang mengatakan orang yang kita maksud tersebut ...owning positive and special place in feeling of us.....memiliki tempat yang istimewa dan positif dalam perasaan kita. Nah, makna dari perasaan cinta adalah kita merasakan bahwa orang yang kita cintai itu secara nyata memang patut mendapat pertimbangan khusus, karena mempunyai sifat-sifat istimewa yang dapat kita rasakan.
Cinta merupakan ikatan yang kita bentuk dengan orang lain sebagai bagian dari usaha kita untuk menempatkan dan memberi makna terhadap kehidupan kita. Kebutuhan akan keterlibatan emosional dengan orang lain di luar diri kita begitu menekan sehingga jarang sekali dan hanya dalam pengertian terbatas sekali kita benar-benar dapat memilih secara aktif orang-orang yang akan terlibat secara emosional dengan diri kita atau dengan kata lain, kita nggak mudah dan sembarangan untuk jatuh cinta dengan seseorang, namun jika kita sudah mencintai seseorang maka akan sulit didelete dari kehidupan kita. Dari saat kita dilahirkan, kita setia menyayangi orang di sekitar kita dan tidak akan membiarkan mereka lepas sampai kita meninggal dunia.
Ada beberapa pendapat tentang cinta yang gua sampaikan di sini.
pertama, cinta dipandang sebagai masalah dicintai dan bukan masalah mencintai.
Pandangan semacam ini akan mendorong orang untuk selalu mempermasalahkan bagaimana supaya dia dicintai atau bagaimana supaya dia menarik orang lain. Untuk ini, umumnya orang memilih beberapa jalan, diantaranya kalau yang laki-laki biasanya kan berusaha untuk menjadi sukses, berkuasa dan kaya sejauh dimungkinkan oleh batas-batas kedudukan sosialnya. sementara yang wanita biasanya berusaha membuat dirinya lebih menarik, lebih cantik. Selain itu cara lain yang bisa menarik orang lain adalah dengan memupuk tingkah laku yang menyenangkan, menyuguhkan tutur kata yang menarik, suka menolong, sopan dan tindakan-tindakan lain yang bersifat tidak mengganggu orang lain.
kedua, sikap yang menunjukkan bahwa tidak ada yang harus dipelajari dalam hal cinta, masalah cinta adalah masalah objek, dan bukan masalah bakat. Dugaan semacam ini mendorong orang selalu berfikir, mencintai orang adalah hal yang sederhana, kan tetapi yang sulit justru mencari objek yang tepat untuk mencintai dan dicintai. Alasannya adalah adanya perubahan besar yang terjadi dalam abad 20, khususnya dalam pemilihan objek cinta. Cinta bukanlah merupakan pengalaman pribadi yang spontan yang kemudian mungkin mengarah kepada perkawinan. Namun sebaliknya, perkawinan diatur oleh adat, keluarga-keluarga terpandang, dan perantara perjodohan. Perkawinan ditentukan atas dasar pertimbangan sosial dan cinta dianggap berkembang setelah perkawinan dilangsungkan. Contoh yang seperti ini bisa kita petik dari novel Siti Nurbaya.
ketiga, mengarah pada dugaaan bahwa tidak ada yang harus dipelajari dalam cinta ini. Jika dua orang yang dahulunya merupakan orang asing tiba-tiba meruntuhkan tembok perasaaan di antara mereka, dan mereka merasa dekat, merasa satu atau saling jatuh cinta, maka momen kesatuan inilah salah satu dari pengalaman yang paling menyenangkan dan paling menggembirakan dalam kehidupannya. Kenyataan semacam ini dirasakan benar-benar menakjubkan seakan-akan sebagai mukjizat bagi pribadi-pribadi yang bersangkutan.
Nah dari yang gua sampaikan di atas, maka disimpulkan cinta merupakan suatu seni dan untuk memahaminya memerlukan pengetahuan dan latihan. Sebagaimana lazimnya mempelajari suatu seni maka dalam cinta diperlukan pengetahuan teoritik terlebih dahulu sebelum kita menguasai praktiknya. Berkat perpaduan antara kemampuan teoretik dan praktis maka seni bisa dikuasai, berupa intuisi dan hakikat penguasaan, serta dilengkapi dengan suatu sikap bahwa menguasai seni adalah tujuan tertinggi. Cinta adalah suatu kegiatan dan bukan merupakan pengaruh pasif. Dengan demikian bisa pula dikatakan bahwa salah satu esensi dari cinta adalah kreativitas dalam diri seseorang. Cinta terletak pada aspek memberi bukan menerima. Cinta tidak hanya sekedar pertautan antara unsur-unsur pengetahuan, teori dan praktik tapi lebih luas, yaitu mempunyai hubungan pengertian dengan konstruk lain seperti kasih sayang, kemesraan, belas kasihan ataupun aktivitas pemujaan.

Monday, September 6, 2010

KEGELISAHAN YANG MENGAKIBATKAN PENDERITAAN


Gua coba-coba  mau posting sesuatu yang beda dikit nih, pasalnya gua keinspirasi perasaan yang kagak enak beberapa hari yang mengusik hati gua. Pada dasarnya kita sebagai manusia senang yang namanya kenikmatan hidup. Kalau kite mau nanyain pada semua orang baik itu aki-aki, nenek-nenek, mbah, engkong, pak de, bu de, abang, om tante, adik, pokoknya semuanya dah…pasti jawabnya adalah kebahagian dan kemudahan, artinya kagak ada yang mau sengsara, kagak mau ada hambatan, kagak pengen ada malapetaka…. semua pengen bahagia. Apabila hal-hal tersebut tidak kita dapatkan, maka biasanya kita akan merasa gelisah, kagak enak hati, kagak tenang, pokoknya kagak nyaman lah….hehehe. Sebagai bahan renungan kita ambil beberapa contoh. Seseorang yang mempunyai cacat jasmani misalnya, dia merasa kagak pede, malu dan bahkan berusaha mengingkari kekurangan dirinya. Bagi orang yang kagak bisa menerima keadaan dirinya itu hidupnya pasti kagak tenang…. karena dia selalu ngebayangin “wah, seandainya badan gua sempurna….” atau dia akan selalu berpikir “ wah, gimana ya? agar mata gua biar nggak kelihatan buta?” atau dia berusaha bagaimana menghilangkan atau menyembunyikan cacat tubuhnya tersebut agar nggak kelihatan sama orang lain.
Contoh kecil aja misalnya, seorang cewe mau pergi ke pesta. Tiba-tiba ketika dia bercermin dilihatnya ada jerawat nempel di pipi, lalu dia merasa kalau ada jerawat tersebut, kecantikannya akan berkurang dan mungkin bakalan nggak akan jadi pusat perhatian di pesta nanti. Apalagi di pesta tersebut juga hadir cowok yang menjadi idamannya. Kira-kira anda bisa ngebayangin betapa resah dan gelisahnya si cewek hanya gara-gara jerawat sebiji. Lalu dia berusaha mencoba menghilangin jerawat tersebut dan mencoba beberapa macam produk kecantikan yang menurut iklan katanya dapat menghilangkan jerawat dalam beberapa detik. Ceeeee……mana ada produk kecantikan yang bisa ngilangin jerawat dalam beberapa detik? Ada-ada saja ni si pengarang…..ufs!! pengarangnya kan gua…hehehe. Nah, ketika waktu pesta tiba ternyata si jerawat boro-boro hilang, malah semakin memerah dan membesar. Rasa pede si cewe benar-benar di uji, dan ternyata….mungkin usianya masih muda…dia mengambil keputusan untuk tidak mengikuti pesta tersebut, dan tentu saja keputusan tersebut sangat menyebalkan dan sangat menyakitkan…..apalagi dia dengar cowok yang menjadi idamannya berhasil digaet temennya……wahhhh…mampyusss tu cewe. Maka, berkepanjanganlah rasa gelisah yang dialaminya….
Contoh yang lain, misalnya orang-orang yang dilanda kemiskinan. Orang-orang miskin ini menderita disebabkan kelaperan dan penyakit, dan sama sekali kagak ada suatu prospek hidup yang cerah secara manusiawi. Untuk makan hari ini aja mereka susah, buru-buru mikirin yang lain. Jika anda bertemu dengan pengemis atau pemulung, jangan coba-coba anda bertanya begini, “ Saudara, bagaimana strategi yang anda gunakan dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan sektor pengemisan atau permulungan di era globalisasi sekarang ini?” …..qeqeqe…..paling-paling mereka saling memandang satu sama lain dan saling mengangguk mengatakan dalam hati, “koq ada wartawan sarap yang nyasar ke sini ya?”
Masih ada lagi contoh lain, yaitu ketidakadilan. Apa yang diharapkan orang dalam kehidupan masyarakat adalah kehidupan bersama yang mana semua orang diberi kemungkinan mengembangkan hidupnya sebagai mana mestinya. Namun seringkali ada orang yang kagak diberi kesempatan untuk mengembangkan hidup yang lebih baik karena adanya diskriminasi dan ketidakadilan. Demikian juga dengan kaum hawa alias perempuan. Di berbagai negara banyak perempuan merasa belum diperlakukan secara adil. Aturan budaya, bahkan aturan agama masih dianggap memperlakukan mereka secara diskriminatif. Kemudian ada lagi nih, malapetaka yang memusnahkan nilai-nilai hidup seperti perang juga akan berakibat penderitaan.
Tidak adanya masa depan yang pasti bagi seseorang, juga merupakan suatu yang menggelisahkan. Faktanya dia harus hidup, harus bergerak, dan harus maju, namun kesempatan untuk hal itu kagak ada dan tertutup baginya. Bagaimana dia mau pinter, kalau sekolah aja kagak…nah, bagaimana dia bisa sekolah kalau sekolah hanya menerima anak orang yang kaya dan pinter sementara dia anak orang miskin dan bodoh…..haduhhh..nasib orang miskin, dah….ckckck. Untung sekarang pemerintah cepat tanggap memberikan bantuan dana BOS sehingga anak-anak miskin bisa sekolah, yach…paling kagak tamat SLTP lah. Tapi yang menjadi pertanyaan, mampukah warga negara Indonesia yang hanya berbekal pendidikan dasar mampu berkiprah di era globalisasi yang modern seperti sekarang ini?...hehehe….jawabnya bila tidak mampu, maka mereka akan tersingkir. Menurut salah satu teori perilaku menyimpang yang pernah gua denger, katanya…diskriminatif struktural atau ketidakadilan tersebut akan mendatangkan kegelisahan yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa frustasi dan sikap yang menyimpang.
Nah, jadi oleh karena ketidaknikmatan hidup di atas tersebut menyebabkan penderitaan dan setiap orang pun berusaha menghindarinya. Sementara di sisi lain, untuk mencapai kenikmatan hidup maka manusia bersedia mengalahkan berbagai kepentingan pribadi lainnya, bahkan yang lebih gila lagi, kepentingan orang lain juga mereka tendang…ckckck. Mungkin anda masih ingat anekdot yang berbunyi bagi orang miskin yang ada dipikirannya adalah “HARI INI MAKAN APA”, tetapi bagi orang yang serakah maka yang ada dipikirannya adalah “HARI INI MAKAN SIAPA”….hehehe…rupanya kesenangan terhadap kenikmatan hidup pada akhirnya membuat orang jadi serakah. Sikap serakah ini berhubungan erat dengan hawa nafsu. Sesungguhnya hawa nafsu itu tidak selalu dipandang jahat, sebab hawa nafsu adalah motor yang menggerakkan manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Namun jika manusia selalu menuruti hawa nafsu dan tidak dapat mengendalikannya, maka manusia tersebut kehilangan hakikat kemanusiaannya, nggak ubahnya kayak binatang. Hal ini banyak terjadi dalam kehidupan  masyarakat kita sekarang ini,  manusia yang memakan manusia lain (homo homini lupus). Tapi hal itu secara harfiah aja koq, meskipun hanya Sumanto yang benar-benar makan bangkai sesama.
Zaman sekarang adalah zaman edan, yang mana keteraturan terganggu, keadilan dan keamanan menipis, ekonomi yang serba sulit dan tata nilai mengalami benturan-benturan.
Zaman seperti sekarang ini tidak hanya menyebabkan sakitnya batin orang-orang yang tertindas, tetapi juga batin dari orang-orang yang serakah. Keserakahannya akan menyebabkan rasa gelisah karena apa yang dimilikinya dirasanya belum juga memuaskannya, kayak orang kehausan di padang tandus semakin dia minum semakin dia haus. Pikirannya akan selalu diisi oleh keinginan untuk mendapatkan segala-galanya. Oleh karena tidak adanya batasan dan ukuran, sehingga ketika dia telah berhasil mendapatkannya belum tentu merasa gembira karena dia merasa masih banyak yang belum didapatkannya. Ketika dia melihat tetangganya di sebelah kanan beli kulkas, hatinya panas, dia pengen beli kulkas dan setelah kulkas dibeli, dia melihat lagi tetangganya yang di sebelah kiri beli motor, panas lagi dia dan kepengen beli motor juga. Setelah dia berhasil membeli motor, dia melihat lagi tetangganya yang di depan beli mobil, makin panas dia….yang pada akhirnya kulkas maupun motor tidak dapat menggembirakan hatinya lagi……
Selain hawa nafsu, pamrih juga dianggap sebagai suatu yang dapat menimbulkan kegelisahan. Dengan pamrih orang mengejar kepentingan dirinya sendiri dan sering bertabrakan dengan kepentingan sesama yang akan menimbulkan konflik. Orang yang diliputi rasa pamrih akan selalu menghitung balasan dari apa yang telah dilakukannya. Kehidupannya menjadi tidak tenang karena selalu diliputi oleh harapan yang belum tentu akan didapatkannya. Jika apa yang diharapkannya tidak diperolehnya, maka dia akan merasa gelisah.
Kegelisahan bisa dialami oleh siapa saja, baik yang berada dalam kondisi kesempitan maupun kelonggaran. Hal ini berkaitan erat dengan watak keperibadian manusia. Watak keperibadian manusia terbentuk karena keturunan, pola pengasuhan ketika masih anak-anak, dan pengalaman hidup yang telah dijalani. Ada empat tipe watak manusia yaitu watak gembira, periang, penyedih, dan pemarah. Orang yang selalu gembira dan riang menimbulkan optimisme, sedang orang yang selalu sedih dan pemarah menimbulkan pesimisme. Orang yang optimis suka melihat segi positif dari hidup dan mengharapkan yang baik dari masa depan, sementara orang pesimis hanya menantikan hal yang buruk saja. Ketika orang yang optimis menemukan gelas yang berisi separo air, dia akan berkata, “Alhamdulillah, masih ada separo air buat minum”, tapi ketika orang pesimis menemukannya dia akan berkata, “yachhhh….koq cuman separo, mana cukup buat minum”. Bagi orang yang menilai hidup ini sebagai sesuatu yang negatif, biasanya dekat dengan pengalaman ketakutan. Baginya kehidupan adalah suatu yang menakutkan. Orang menjadi takut karena hidup yang dijalaninya tampak kosong, tanpa makna, tanpa arah dan tanpa tujuan. Padahal fungsi ketakutan dalam hidup manusia hanya untuk menimbulkan sikap waspada terhadap bahaya yang mengancam hidup.
Nah, dari uraian di atas dapat ambil suatu makna bahwa jika manusia tidak bisa menjaga hakikat dirinya dan hakikat hidupnya maka yang timbul adalah kegelisahan. Sumber dari kegelisahan adalah hawa nafsu dan sikap pamrih. Kedua hal tersebut menyebabkan munculnya sikap serakah dan terjadinya konflik selanjutnya akan memunculkan ketakutan, kekecewaan,  dan pada akhirnya kegelisahan.